Apakah kau mendengar suara dalam dirimu?

by Erick Iskandar


Posted on 26-Jun-2016



Hari-hariku berjalan seperti biasanya. Hari-hari yang kualalui dengan sama selama 15 tahun terakhir. Aku bangun, membuat kopi, mandi, berpakaian dan menuju stasiun kereta api untuk mengejar kereta pk. 7.35 agar dapat tiba di kantor pk. 08.30. Ketika di Kereta, aku selalu memilih untuk duduk di pojokan menghindari keramaian agar dapat membaca koran dengan tenang dan santai. Ketika di kantor, aku harus bersiap mengahdapi berbagai rutinitas dalam berhubungan dengan rekan kerja, supplier, atasan, menjawab telepon, mengikuti meeting, dsb.

Aku tidak tahu mengapa hari ini ketika aku berada di kereta api, kereta cukup ramai tidak seperti biasanya. Mau tidak mau aku duduk di satu-satunya tempat duduk tersisa di sebelah seorang Pria paruh baya yang tampaknya begitu tenggelam dalam pikirannya sendiri. Aku agak lega ketika dia tidak menyadari keberadaanku karena ia tampak tertunduk menatap lantai terus menerus. 

Setelah 30 menit berjalan, aku mulai bertanya hal apa gerangan yang ada di benak pria di sampingku ini. Hal apa yang begtu penting dipikirkan olehnya sehingga bahkan keberadaan diriku pun tidak disadarinya? Aku berupaya tidak terlalu mempedulikannya dan terus membaca koranku. Namun tanpa suatu alasan yang jelas, ada suara aneh dalam diriku yang muncul terus menerus yang memintaku untuk berbicara pada Pria ini. Aku berusaha mengabaikan suara ini karena memang tidak ada alasan sama sekali untuk memulai pembicaraan dengan orang asing yang tidak kukenal.

Lalu seperti yang sudah anda duga, aku berupaya memulai pembicaraan dengan menanyakan suatu hal padanya. Ketika ia memalingkan wajahnya padaku, ia tampak memendam kekecewaan yang mendalam. Matanya tampak merah, dan masih ada air mata yang terjatuh dari matanya, meski ia tampak berupaya menghapus dan menghilangkannya. Aku sulit mendeskripsikan keedihan yang turut kurasakan melihat penderitaannya yang tampak berat.

Kami berbicara sekitar 20 menit, dan di akhir pembicaraaan ia tampak lebih baik. Ketika kami meninggalkan kereta, ia berterima kasih padaku karena telah menjadi 'Malaikat' yang menyediakan waktunya untuk berbicara sejenak padanya. Aku tidak pernah tahu masalah apa yang menyebabkan hatinya memiliki beban yang begitu berat, namun aku lega telah mengikuti apa yang diminta oleh suara dalam diriku.

Beberapa minggu telah lewat ketika aku mendapati sebuah amplop di atas meja kerjaku ketika aku kembali dari makan siang. Surat itu tidak ditujukan untuk siapapun dan hanya tertera kata 'Malaikat' di depan amplop. Resepsionisku meninggalkan note yang berisi catatan bahwa surat tersebut diberikan oleh seorang Pria yang tidak mengenal namaku namun ia telah mendeskripsikan diriku dengan begitu jelas sehingga Resepsionisku yakin bahwa orang yang ditujukan bagi surat tersebut adalah diriku. Ketika aku membaca surat singkat di dalam amplop tersebut, diriku diliputi emosi yang sangat kuat yang sulit diungkapkan. Surat tersebut berasal dari Pria yang kutemui di Kereta Api beberapa waktu yang lalu. Ia kembali mengucapkan terima kasih padaku karena mau melakukan pembicaraan dengannya dan telah menyelamatkan hidupnya.

Rupanya ketika di Kereta Api tersebut, ia sedang mengalami masalah pribadi yang sangat sulit dan berat sehingga ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya hari itu. Pada suratnya ia menjelaskan bahwa ia bukanlah seseorang yang religius, namun pada saat itu ia sedang berteriak dalam hatinya dan meminta pertolongan Tuhan. Bahwa jika Tuhan sungguh peduli padanya, ia minta untuk dikirimkan seseorang untuk mencegahnya dari keinginan bunuh diri. Dan pada saat itulah, aku memulai pembicaraanku di Kereta dengannya. Di matanya, akulah orang yang dimaksud, 'Malaikat' yang dikirimkan Tuhan untuk menyelamatkan hidupnya.

Aku pun bukanlah seseorang yang religius dan aku tidak tahu darimana 'suara' yang muncul dalam diriku yang mendorongku untuk berbicara pada Pria tersebut. Namun aku tahu bahwa tindakanku yang mengikuti 'suara' tersebut telah mampu membuat perbedaan pada hidup seseorang.

Cerita merupakan pengalaman pribadi dari Bob Eliers ©2006

Bob tinggal di British Colombia, Kanada