Ketika Ego Menghancurkan Kepemimpinan

by ErickIskandar


Posted on 24-Oct-2022



Ego menjadi musuh berbahaya bagi Pemimpin. Pergerakannya terkadang begitu cerdik dan tanpa kita sadari, sekonyong-konyong ia telah menguasai perilaku kepemimpinan kita. Dan tanpa kita duga, bisa jadi ia telah membuat kita menjadi sosok pemimpin yang menyebalkan, tidak efektif, bahkan menakutkan.

 

Mari kita lihat bagaimana ego bisa menghancurkan kepemimpinan kita dan bagaimana caranya untuk dapat lepas dari perangkapnya.

 

 

Kita bukanlah pusat dari segala sesuatu 

Dalam masa remaja, kita seringkali memiliki imajinasi – yang disebut oleh David Elkind sebagai “imaginary audience” – bahwa kita adalah pusat perhatian. Bahwa kita sedang diamati / diperhatikan / diawasi oleh banyak orang. Bahwa orang-orang mengagumi / mengkritisi segala perilaku kita. Padahal kenyataannya itu hanyalah “imajinasi” kita saja. Bahwa sebenarnya orang-orang tidak terlalu memperhatikan kita juga. Kita memiliki ilusi bahwa kita adalah orang penting di mata orang lain.

 

Salah satu unsur dalam “imaginary audience” adalah apa yang disebut sebagai “personal fable”, yaitu keyakinan (yang salah) bahwa perasaan yang kita miliki adalah unik, bahwa kita orang yang spesial, yang “immortal”, yang memiliki hak untuk diperlakukan istimewa. Padahal, kita tidaklah se-istimewa dan se-penting yang kita kira.

 

Well, bagaimanapun banyak juga pemimpin organisasi yang berusia dewasa, namun kematangannya masih remaja. Masih memiliki “imaginary audience” dan “personal fable” yang terus dibawa sampai usia dewasa – yang seharusnya sudah ia tanggalkan ketika sudah tidak remaja lagi. Pemimpin seperti ini akan merasa bahwa hukuman / aturan / norma tidak berlaku untuknya karena ia adalah orang yang spesial, yang istimewa, yang tidak bisa disentuh, yang boleh melakukan apapun yang ia inginkan termasuk untuk melanggar hukum dan aturan sekalipun.

 

…….

 Enron fraud

Desember 2001, Enron (perusahaan energi di Amerika) mengumumkan kebangkrutannya. Kebangkrutan Enron adalah peristiwa sejarah kejatuhan korporasi terbesar di dunia saat itu. Kejatuhannya terutama karena skandal penipuan / pemalsuan laporan akuntansi / keuangan yang telah lama mereka lakukan. Adam Grant dalam karyanya di “Give and Take” menuliskan bahwa faktor egosentrisme sang chairman, yaitu Kenneth Lay adalah faktor peyebab penting dibalik kejatuhan Enron.

 

Gaya kepemimpinan Kenneth Lay berorientasi pada “mengambil” sebanyak mungkin dibandingkan “memberi”. Ia lebih banyak membuat strategi yang lebih menguntungkan dirinya sendiri. Seakan-akan dunia di sekelilingnya ada dan berada hanya untuk melayani kepentingannya.

 

Gaya egosentrisme-nya ini bahkan tampak dalam hal-hal sederhana, yang menurut analisa menjadi sinyal penting kejatuhan Enron yang selama ini luput dari pandangan banyak orang. Misalnya pada ratusan laporan keuangan Enron, pada setiap halaman depan selalu terpampang foto Kenneth Lay dalam satu halaman penuh. Sebuah indikasi yang ingin menunjukkan “who is the boss”. Indikasi lainnya adalah ybs menerima kompensasi gaji dan bonus yang jauh lebih besar dibandingkan top executive Enron lainnya.

 

Dalam buku The Smartest Guys in the Room, Lay disebutkan memandang rendah orang-orang yang sebenarnya telah membuat perusahaan itu menanjak. Cara pandang yang sangat mirip seperti seorang raja yang memandang pelayan-pelayannya. Ia memandang rendah Rich Kinder, Presiden Enron, yang sebenarnya telah berjasa besar bagi kemajuan Enron selama ini.

 

…..

 

Kejatuhan Enron – selain mengenai masalah integritas – mengajarkan kita betapa self-serving leader sungguh membawa racun berbahaya yang tidak hanya menghancurkan tim-nya, namun juga menghancurkan perusahaannya – terutama ketika ia memiliki kuasa dan pengaruh yang begitu besar.

 

Karena itu, penting bagi pemimpin untuk mampu keluar dari “keberpusatan” pada dirinya sendiri. Bahwa ia bukanlah pusat dari segala sesuatu. Bahwa ia tidaklah se-istimewa seperti yang ia pikirkan. Bahwa ia bukanlah siapa-siapa tanpa orang-orang di sekelilingnya yang membantu dan mengangkatnya.

 

Untuk mampu keluar dari perangkap “imaginary audience”, pemimpin perlu senantiasa mengasah “eling”nya sendiri – bahwa keberadaannya sebagai pemimpin bukan sekedar untuk mengakumulasi kenyamanan jabatan / kestabilan karir / keamanan finansial – segala yang berorientasi pada kebutuhan diri ; namun juga terlebih untuk mengakumulasi relasi baik / hubungan kepercayaan / integritas – segala yang berorientasi pada pelayanan bagi orang lain.

 

 

Bahayanya kebanggan diri yang terlalu dini

Hati-hati ketika segala sesuatu berjalan baik sesuai keinginan kita. Ada kalanya Ego menulusup saat sang Pemimpin justru sedang mencapai kesuksesannya. Apalagi saat semua kondisi seakan-akan berjalan mulus dan berpihak padanya, ia akan semakin terbenam dalam perasaan bahwa ia hebat, ia tak terkalahkan, ia tidak kenal rasa takut. Perasaan-perasaan semacam ini adalah (meminjam istilah Ryan Holiday) “perasaan kesenangan palsu” yang bisa membutakan.

 

Seringkali ego masuk melalui pikiran-pikiran berikut ini dalam benak pemimpin:

  • Saya memang jago dan ahli karena kerja keras saya sendiri.
  • Sudah sewajarnya saya dilayani lebih karena memang saya berkontribusi besar.
  • Saya kaya karena saya bisa menghasilkan uang.
  • Saya berhasil karena saya memang pintar.
  • Saya orang penting karena saya hebat dan punya kuasa.

 

Perasaan saat mencapai kesuksesan / keberhasilan / pencapaian memang menyenangkan dan bisa menjadi pemicu semangat dan ambisi. Namun ia juga bisa menjadi perangkap yang membuat pikiran kita hanya berfokus pada perspektif kita sendiri dan menolak pandangan / peringatan / masukan / feedback dari orang lain.

 

…..

 

 

Theranos adalah perusahaan startup asal California, Amerika yang didirikan oleh Elizabeth Holmes saat ia berusia 19 tahun di tahun 2003. Perusahaan ini telah merevolusi dunia laboratorium medis karena diklaim mampu melakukan uji tes sampel darah dalam waktu cepat dengan hanya menggunakan beberapa tetes darah untuk mengidentifikasi penyakit terkait kolesterol, diabetes, kanker,dsb. Padahal untuk melakukan tes darah konvensional diperlukan jumlah sampel darah yang banyak dan waktu yang tidak singkat.

 

Elizabeth Holmes telah menjadi “the rising star” yang profilnya dimuat di berbagai majalah seperti forbes maupun Inc. Pada usia 31 tahun, ia adalah wanita wirausahawan muda tersukses di Silicon Valley yang banyak didominasi kaum pria. Pada saat itu, ia telah memiliki kekayaan $ 9 milliar – yang menjadikannya “self-made billionaire” termuda di Amerika.

 

Ia menerima begitu banyak apresiasi, pengakuan, penghargaan. Segala sesuatunya tampak berjalan baik, mulus, dan sukses bagi Elizabeth Holmes. It seems too good to be true bahwa Wanita muda ini mencapai kesuksesan begitu luar biasa dalam waktu yang sangat cepat. Well, benarkah demikian?

 

Pada 4 September 2018 Theranos dinyatakan tutup.

 

Ternyata selama ini Theranos telah terbukti melakukan fraud terhadap tes darah yang dilakukan. Pada tahun 2021, Elizabeth Holmes menghadapi dakwaan pengadilan California terkait 200 tes darah yang tidak akurat dan tidak reliable - mengakibatkan kesalahan diagnosa terhadap pasien. Holmes juga berbohong dengan menjanjikan keuntungan perusahaan pada investor yang nilainya jauh lebih tinggi dibandingkan keuntungan perusahaan yang sesungguhnya.

 

Sebelum kejatuhan Theranos, sebenarnya para karyawan di laboratorium perusahaan sudah sering menyuarakan dan membuat laporan terkait kesalahan yang sering terjadi pada peralatan lab  “Edison” (peralatan laboratorium mini yang melakukan pengetesan sampel darah). Namun laporan tersebut sering diabaikan oleh Manajemen dan Holmes sendiri. Bukannya fokus pada pencarian solusi, mereka malah memfilter data yang masuk. Hanya berfokus pada data diagnosa yang akurat, sementara data diagnosa yang salah malah diabaikan. Bahkan rekan Holmes, yaitu Sunny Balwani sering memberikan tekanan dan ancaman pada karyawan yang kritis. Sejumlah karyawan dipecat jika mereka terlalu kritis ataupun terlalu banyak tanya. Para mantan karyawan mendeskripsikan budaya kerja di Theranos penuh dengan ketidakpercayaan, tekanan psikologis dan kebohongan. Contoh sederhana kebohongan yang dilakukan oleh Holmes adalah mengaku ia sedang keluar kantor via email padahal jelas-jelas ia ada di ruangannya yang berjarak hanya beberapa meter dari karyawan yang ia email.

 

……

 

Kejatuhan Theranos menunjukkan betapa berbahayanya ketika pemimpin terlalu terbuai dengan “perasaan kesenangan palsu” dirinya sendiri. Terlalu berkutat pada apa yang menurutnya benar dan mengabaikan kenyataan yang sesungguhnya, bahkan menutupi kenyataan tersebut dengan menipu.

 

Karena itu, pemimpin perlu terus menerus mengembangkan kemampuan untuk “keluar dari pemikiran sendiri”. Untuk tahu batasan agar tidak terbuai dengan “perasaan kesenangan palsu”-nya sendiri. Untuk tetap MEMBUMI saat pujian, keberhasilan, nasib baik sedang berpihak padanya. Untuk berani menerima kenyataan pahit  bahwa pencapaiannya selama ini belum tentu artinya akan berhasil dan sukses terus menerus. Untuk rendah hati menerima masukan, mendengar dengan tulus, membuka pikiran, melihat dari perspektif berbeda, memperlakukan orang lain dengan rasa hormat.

 

Berhati-hatilah. Jika kita secara diam-diam masih berpikir dan merasa bahwa kita lebih hebat / lebih baik dari orang lain – ini mengindikasikan bahwa kita masih memiliki kebanggaan palsu tersebut.

 

 

Perjalanan karir professional dan karir kepemimpinan kita adalah perjalanan mengelola ego. Ketika kita memelihara kesadaran diri yang penuh, niscaya ego menjadi partner yang dapat kita kendalikan. Or else ia bisa menjadi musuh yang sangat menghancurkan.

 

Let’s lead better.