Pelajarilah mengapa orang-orang meninggalkan anda

by Erick Iskandar


Posted on 24-Aug-2017



Kekuatan utama seorang Pemimpin terletak pada bagaimana ia mengevaluasi pengalaman yang telah ia lalui bersama anggota timnya melalui kacamata kesadaran yang jernih untuk kemudian mengambil tanggung jawab pribadi melakukan perubahan yang perlu terhadap perilaku kepemimpinannya.

 

Hasil penelitian  yang dilakukan oleh Gallup & tim Harvard Business Review menunjukkan bahwa alasan no.1 karyawan keluar bukanlah karena organisasi-nya yang buruk, namun karena perilaku kepemimpinan yang mereka terima dari atasan langsung mereka. Hal ini semakin mengkonfirmasi pepatah yang berbunyi “people quit their bosses, not their jobs” (orang-orang berhenti karena boss mereka, bukan karena pekerjaan mereka).

 

Karena itu penting bagi kita sebagai pemimpin untuk belajar dari pengalaman dimana anggota tim kita memilih keluar dari perusahaan karena perilaku kita (kendati mereka enggan mengakuinya dan membuat alasan yang lain). Lakukan refleksi secara jernih dan hindari kecenderungan untuk melampiaskan tanggung jawab pada karyawan tersebut atau kondisi lingkungan.

 

 

Jarang menghargai dan memberikan apresiasi

Ketika anggota tim melakukan pekerjaannya dengan baik, seringkali respon pemimpinnya adalah : No Response ! Karena sang pemimpin menganggap memang itu sudah menjadi tugas dan kewajiban dari karyawan dan karena memang untuk itulah mereka digaji. Padahal, kebutuhan psikologis utama manusia adalah kebutuhan untuk dihargai dan diakui.

 

Pemimpin perlu trampil dalam melihat pekerjaan baik yang dilakukan anggota tim, peka untuk menyadari kerja keras dan dedikasi yang dikontribusilkan anggota tim dan mampu memberikan apresiasi secara tulus dan berdampak pada  mereka. Apresiasi bukanlah sekedar perkataan “good job” yang dibuat-buat, namun pujian tulus yang spesifik yang diberikan secara langsung dan segera atas pekerjaan baik maupun kinerja optimal yang telah dihasilkan anggota tim.

 

Apresiasi yang tulus dan kreatif akan menguatkan hati dan menggerakkan semangat anggota tim untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja baik mereka.Good works that gets noticed, gets repeated.

 

 

Mengeluarkan kata-kata yang menyakiti

Ada yang berpendapat bahwa “it’s not personal, it’s just business”, well…. terhadap pendapat ini, saya mengatakan : “because it is business, then it is personal”. Setiap hari, pemimpin di tempat kerja memberikan informasi, feedback, berita, pendapat yang akan sangat mempengaruhi pekerjaan, kesempatan, status, pendapatan, mood, kesehatan, dan well being anggota timnya. Bagaimana mungkin hal ini tidak personal?

 

Seringkali orang berpendapat untuk tidak membawa perasaan di tempat kerja. Padahal hal itu tidak mungkin terjadi karena manusia adalah makhluk emosional yang senantiasa membawa perasaan dan emosi ke tempat kerja.

 

Pemimpin yang memprioritaskan hubungan kepercayaan akan mampu menahan diri dan tidak mengeluarkan kata-kata yang menghakimi dan menyalahkan orang lain. Ia tahu bahwa prioritasnya untuk menciptakan hasil dan memberi kemajuan pada organisasi juga berimbang dengan prioritasnya untuk menghargai, memberdayakan dan menjalin relasi positif dengan orang lain.

 

“Kalau kamu tidak bisa, masih banyak orang lain yang bisa” , “Saya gak mau tahu, pokoknya….”, “Kan sudah saya bilang….”, “Bisa kerja gak sih….”, dan masih banyak contoh-contoh kata-kata lain yang keluar dari mulut pemimpin yang bersifat menyalahkan, menghakimi, memaksakan kehendak. Karakter kepemimpinan selain ditentukan oleh kualitas tindakan, tentu juga ditentukan oleh kualitas kata-kata yang ia katakan pada anggota timnya.

 

Hal ini tentu bukan berarti pemimpin tidak boleh marah. Ia bahkan wajib marah terhadap perilaku anggota timnya yang bertentangan dengan nilai-nilai organisasi. Ia mampu membedakan mana kata-kata tegas yang bersifat membangun dan mana kata-kata destruktif yang bersifat menjatuhkan.

 

 

Jarang “hadir” untuk anggota tim

Jika pemimpin jarang terlihat, sibuk menghabiskan waktu untuk meeting, keluar kantor, terlihat sibuk terus, maka sebenarnya ia sedang mengirimkan pesan pada anggota timnya : “Jangan dekati saya, saya sedang sibuk”. Jika hal ini terus menerus dilakukan, orang akan enggan mendekati dirinya dan semakin memperlebar jarak relasi antara dirinya dengan anggota timnya.

 

Produktif untuk memberikan hasil itu penting. Tidak kalah penting juga untuk produktif dalam menginvestasikan waktu untuk hadir dan menjalin relasi positif dengan anggota tim. Pemimpin yang efektif menyadari mengenai prinsip “results through people”, bahwa hasil yang ia ingin ciptakan hanya mampu terjadi jika ia melakukannya dengan melibatkan anggota timnya.

 

Hasil dicapai melalui kebersamaan dengan orang lain, karena itu penting bagi pemimpin untuk merawat hubungannya dengan anggota timnya, dan hal yang paling efektif untuk dilakukan adalah dengan menyediakan diri untuk hadir di tengah-tengah anggota timnya. Mendengarkan mereka, tertawa bersama mereka, bercengkrama bersama, menanyakan pendapat mereka, dan berupaya mengenal anggota timnya lebih dalam.

 

Ada 2 jenis perspektif pemimpin dalam memandang anggota timnya. Perspektif pertama adalah saat pemimpin berpikir dalam hatinya “bagaimana supaya anggota tim saya bisa berguna untuk saya?” dan perspektif kedua saat pemimpin berpikir dalam hatinya “bagaimana supaya saya bisa berguna untuk anggota tim saya?” Jika pemimpin hanya memiliki perspektif yang pertama, ia akan memandang anggota timnya hanya sebagai alat produksi dalam bisnis, karena itu tidak penting baginya untuk “hadir” bagi mereka. Ketika terjadi masalah, baru sang pemimpin turun tangan dan kemudian menciptakan masalah baru dengan kecenderungan menyalahkan, sementara anggota timnya akan berkata dalam hatinya : “lah, kemana aja lu selama ini…”

 

Sementara pemimpin yang memiliki perspektif kedua, akan mengupayakan yang terbaik untuk dapat “hadir” bagi anggota timnya karena ia tahu bahwa dengan memfokuskan terlebih dahulu pada memberi nilai tambah bagi orang lain, maka pada akhirnya ia akan memperoleh nilai tambah juga dari mereka.

 

 

Cenderung menjaga “status quo” dan jarang melakukan terobosan

Kepemimpinan adalah mengenai melibatkan orang lain dalam perjalanan menuju tujuan yang  lebih baik di masa depan. Jika anggota tim tidak merasa bahwa ia sedang diajak dalam sebuah perjalanan yang menantang menuju masa depan yang lebih baik, mereka akan merasa “jalan di tempat”. Sekan-akan pekerjaan dan karir mereka hanya mengenai operasional sehari-hari tanpa adanya inovasi dan terobosan penting yang dapat menantang dan membuat mereka bertumbuh.

 

Orang akan meninggalkan atasan yang tidak membuat mereka menjadi pribadi yang bertumbuh dalam pekerjaan yang menantang. Pada dasarnya setiap orang senang akan tantangan dan akan merasa terpacu untuk menjadi lebih baik jika mendapat tantangan yang sesuai dengan kompetensi mereka. Orang juga akan merasa bergairah jika mereka tahu bahwa kontribusi mereka memberi makna penting bagi kemajuan organisasi.

 

Karena itu, jika orang tidak merasa bahwa mereka diberi kesempatan oleh atasannya untuk maju dan berkembang melalui tantangan dalam pekerjaan yang membuat mereka mampu berkontribusi dengan produktif, maka mereka akan merasa “stagnan” dan “hambar” terhadap peran dan pekerjaan mereka.

 

Karena itu penting bagi pemimpin untuk berpikir strategis dan melibatkan anggota tim dalam pekerjaan-pekerjaan menantang yang menghasilkan terobosan bagi kemajuan organisasi menuju masa depan yang lebih baik. Hindari kecenderungan untuk berlama-lama dalam zona nyaman dan zona aman dimana segala sesuatu berjalan seperti biasanya. Beranilah mengambil resiko dengan melibatkan anggota tim dalam menciptakan inovasi-inovasi dan perbaikan berkelanjutan yang dilakukan terus menerus.

 

 

Hal-hal diatas adalah alasan yang menempati jumlah terbanyak sebagai penyebab utama para karyawan memilih meninggalkan atasan mereka untuk berkarya di tempat lain. Sebagai pemimpin yang terbuka terhadap pembelajaran, kita perlu mengupayakan yang terbaik untuk memperkuat diri dalam aspek-aspek diatas. Selamat memimpin !