Seni mengakui dan menghargai orang lain

by Erick Iskandar


Posted on 18-Jan-2018



Penelitian bertahun-tahun yang dilakukan Gallup melibatkan jutaan karyawan menunjukkan bahwa alasan no.1 karyawan meninggalkan organisasinya adalah karena atasan langsung yang ia miliki. Dimana mereka merasa tidak dihargai oleh Manager-nya.

 

Menempatkan orang yang salah sebagai Manager akan menciptakan suasana negatif dalam bekerja, menghasilkan dis-engagement tim dan melemahkan produktivitas. Jim Clifton (CEO Gallup) menyatakan bahwa hal ini adalah kesalahan terbesar organisasi yang tidak dapat diperbaiki.

 

Jika perasaan dihargai adalah hal esensial yang dibutuhkan karyawan, mengapa hasil penelitian Gallup menunjukkan bahwa para Manager dan pemimpin organisasi belum  secara efektif melakukannya? Karena banyak pemimpin yang masih menerapkan mindset “It’s not personal; it’s just business” dalam interaksinya dengan karyawan. Mereka belum melepaskan praktik kepemimpinan yang merusak kebutuhan psikologis orang lan. Padahal kita tidak mungkin meniadakan aspek “perasaan” dalam dunia bisnis. Sesungguhnya, motivasi optimal di tempat kerja hanya tercipta ketika pemimpin mengadopsi mindset “if it is business, it is personal.

 

Karena itu penting bagi kita sebagai pemimpin untuk memahami bagaimana memberikan pengakuan secara tepat dan berdaya bagi orang lain. 5 Tips ampuh ini akan membantu anda untuk meningkatkan peran anda sebagai pemimpin yang apresiatif bagi tim anda.

 

 

1. Niatkan apresiasi anda adalah untuk kebaikan orang lain

Memberi apresiasi dengan berkata “good job, well done” tidaklah cukup. Kata-kata yang terucap perlu memiliki makna dan niat untuk menghargai secara tulus terhadap apa yang telah dilakukan orang lain. Tidak mungkin pujian yang bertujuan memanipulasi orang lain dapat berdampak positif bagi orang yang menerimanya.

 

Tanyakan ini pada diri kita : apakah saya memujinya karena saya ingin ia lebih mematuhi saya? ataukah saya memujinya karena ia pribadi yang penting dan berharga dan layak menerimanya?

 

Pemimpin sesungguhnya tidak perlu berupaya menarik perhatian orang lain. Ia justru berupaya menaruh ketertarikanya pada orang lain. Paradoksnya adalah ketika ia menaruh ketertarikannya pada orang lain, ia akan menarik perhatian orang lain.

 

Begitu pula ketika kita memberi pujian pada orang lain. Dasarnya adalah kita menaruh ketertarikan kita pada mereka. Bahwa mereka unik, berharga, dan penting sehingga kita menghargai pribadi mereka, upaya mereka serta kinerja yang dihasilkan.

 

 

2. Berburu kinerja baik

Dalam keseharian bekerja, seringlah menemui anggota tim dan mendapati mereka sedang melakukan pekerjaan baik. Ibarat seorang pemburu yang berburu mangsa, buruan anda adalah anggota tim anda sendiri yang sedang melakukan kinerja dengan baik. Seorang pemburu memiliki fokus dan tingkat kewaspadaan yang tinggi untuk menemukan mangsanya dan kemudian mengeksekusinya. Pemimpin memiliki fokus dan kewaspadaan yang tinggi terhadap kinerja baik anggota timnya.

 

Apa yang kita fokuskan pasti akan kita temukan. Jika kita berfokus pada kinerja baik orang lain, pasti kita akan menemukannya, sesederhana apapun kinerja baik itu. Sayangnya, banyak pemimpin yang masih berfokus untuk menemukan kesalahan dari anggota timnya. Akibatnya mereka memang akan menemukan kesalahan-kesalahan tersebut, dan apa yang terjadi berikutnya? Praktek kepemimpinan yang men-demotivasi akan terjadi : kritikan, menyalahkan, penghakiman.

 

Ingatlah bahwa sebagai pemimpin anda adalah seorang pemburu. Peran anda adalah untuk memburu mangsa anda, yaitu perbuatan dan kinerja baik anggota tim anda dalam keseharian pekerjaan mereka. Saat menemukannya, lakukanlah eksekusi dengan memberi pengakuan dan pujian secara spesifik.

 

Berburu kinerja baik bukan berarti mengabaikan kesalahan dan kinerja buruk orang lain. Pemimpin akan tetap melakukan re-direction saat mendapati anggota timnya melakukan kesalahan.

 

 

3. Spesifik pada perilaku

Penghargaan dan pujian yang diberikan hendaknya spesifik mengarah pada perilaku tertentu yang ditargetkan. Daripada menyampaikan “terima kasih, kerja yang bagus”, sebaiknya menyampaikan “Terima kasih atas inisiatifmu memperbaiki laporan ini dengan data yang lebih lengkap ”. Daripada menyampaikan “Nice work”, sebaiknya menyampaikan “kegesitanmu menangani komplain pelanggan sungguh hebat”.

 

Perilaku baik yang mendapat apresiasi akan cenderung diulangi oleh yang bersangkutan. Ketika kita memuji orang lain secara spesifik pada perilakunya, kita memperjelas apa yang sudah baik yang diharapkan untuk terus dipertahankan dan ditingkatkan.

 

Ketika berfokus pada perilaku, pemimpin akan menjadi lebih objektif untuk menilai kinerja. Dalam memberikan feedback maupun pujian, kita mengevaluasi perilaku orang lain dan bukan menilai sifat / karakter-nya. Karena ketika kita terjebak untuk menilai sifat / karakter, kita akan masuk dalam mode “menghakimi orang lain”.

 

 

4. Peka terhadap momen

Katakanlah anda bersama tim baru saja menyelesaikan event gathering bersama para customer. Tanpa diduga terjadi hujan deras yang membuat beberapa aspek acara menjadi gagal tampil. Anda melihat anggota tim anda tampak kecewa karena persiapan matang yang sudah dilakukan menjadi sia-sia.

 

Inilah MOMEN yang penting bagi anda sebagai pemimpin untuk mendekati anggota tim anda tersebut, memberi tepukan di pundak dan memberi kata-kata penguatan bagi yang bersangkutan bahwa kerja kerasnya mempersiapkan segala sesuatu tetap penting dan sesungguhnya tidak sia-sia.

 

Anda peka pada momen dimana anggota tim anda membutuhkan anda untuk menguatkan dirinya dengan memberi pengakuan yang tepat di saat yang tepat.

 

Misalkan lagi saat meeting anda melihat anggota tim anda baru saja dikritik di depan umum oleh atasan anda terkait project yang ia lakukan. Ini juga menjadi MOMEN yang penting bagi anda untuk menyampaikan pendapat di depan umum mengenai nilai positif dari project tersebut yang terlupakan oleh atasan anda.

 

Dengan demikian anda peka pada momen dimana anggota tim anda membutuhkan anda untuk memberikan pengakuan di depan umum untuk menguatkannya.

 

Pekalah terhadap setiap momen dimana anda dapat mengambil inisiatif untuk menguatkan orang lain dengan memberikan mereka pengakuan dengan cara yang tepat, di waktu yang tepat.

 

 

5. Hubungkan perilaku dengan dampak positifnya

Ketika anggota tim anda menyelesaikan laporannya dengan baik, anda dapat berkata : “Pak Roni, saya appreciate atas laporan Bapak yang diberikan pada saya satu hari sebelum deadline. Laporan ini berisi analisa yang sangat lengkap yang sangat membantu saya dan teman-teman dalam merekomendasikan launching produk baru kita pada manajemen. Saya yakin produk baru kita akan dapat launching dengan baik berkat analisa laporan Bapak yang baik ini”.

 

Ketika pemimpin menghubungkan kinerja baik dengan dampak dan tujuan yang lebih besar, anggota tim akan semakin terbantu untuk memaknai peran pekerjaan mereka. Pada dasarnya, setiap orang terdorong untuk bermanfaat bagi orang lain. Ketika pemimpin menghubungkan kinerja baik timnya dengan manfaat yang lebih besar, secara langsung sang pemimpin telah menanamkan benih motivasi bagi timnya untuk terus menghasilkan kinerja terbaik.

 

 

Kelima tips ini dapat menjadi panduan yang baik bagi anda sebagai pemimpin dalam memberikan pengakuan, pujian dan penghargaan bagi tim anda. Jangan khawatir bahwa anda akan dianggap “pemimpin yang lembek” dengan melakukan apresiasi. Karena sesungguhnya hanya pemimpin yang kuat yang mampu menjadi pemimpin apresiatif.

 

Menurut Ken Blanchard Company, pemimpin yang mempraktekkan kebiasaan apresiatif dalam perilaku kepemimpinannya sangat berperan penting dalam memajukan perusahaan. Perusahaan besar dalam Fortune 500 seperti Balfour Beatty, Marriott International, Starbucks, Southwest Airlines, Nordstorm’s telah mempraktekkan budaya apresiatif dalam perilaku kepemimpinan para Manager-nya.

 

Selamat memimpin dan selamat mempraktekkan seni menghargai orang lain.